Mimpi Dio

“Ibu…. Dio pasti jadi orang terkenalkan?” tanya Dio

Akhir-akhir ini hanya kata-kata itu yang sering meluncur di bibi Dio, suatu siang setibanya Dio dari sekolah, dengan terengah-engah dia memanggil ibunya

“ Asalamu’alaikum…… ibu….ibu…!”

Suara Dio memecahkan keheningan siang hari itu.

“Kak Dio…. Kalo pulang jangan teriak-teriak seperti itu!” Ucap ibu menaseahati Dio.

“Kan ade Cha-cha lagi tidur, kalo bangun gimana? Tanya ibu”

“maaf bu….maafin Dio, nanti mah engga lagi dech!”

Yaudah gak apa-apa, kok pulangnya telat sih? tadi dari mana dulu kak?”

“oh…. Tadi aku dari rumahnya Farhan bu”

Udah makan belum?”

Dio menganggukan kepalanya

“kalo solat?” tanya ibu kembali

Dio menggelengkan kepalanya

Yaudah sekarang solat dulu, udah gitu jangan lupa sepedanya masukin ke garasi yach…!”

Setelah itu Dio bergegas pergi kekamar mandi untuk mengambil air whudu, setelah usai solat ia menghampiri ibu yang sedang menenangkan Cha-cha yang terbangun di ruang baca.

“bu…aku udah solatnya”

“bu Dio pasti jadi orang terkenal kan..? tanya Dio sembari memakai jas besar milik ayahnya.

Kenapa Dio ingin terkenal..? tanya ibu dengan penuh kasih sayang

“kak Dio pengen telkenal kaya altis-altis yang ada di tv yach? Tanya Cha-cha polos dengan suara yang cadel

“gak mau jadi artis..! kakak itu pengennya jadi ilmuan gitu ade!”

Memang sudah beberapa hari ini Dio asyik membaca buku yang di belikan oleh ayah seminggu yang lalu, tentang para ilmuan dunia.

Suatu siang selepas pulang sekolah dio bergegas kekamar belakang, di sana ia berusaha menyelesaikan eksperimennya. Dia terobsesi dengan eksperimenya itu, dia ingin membuat sepasang sepatu yang bisa berjalan dia air, karena kalo banjir ga usah repot naik perahu karet, sepatu yang bisa terbang dan bisa lari secepat mobil.

Suara mobil ayah terdengar di garasi, menandakan hari mulai gelap, namun Dio tak kunjung keluar, di menghabiskan waktu seharian di dalam ruangan tersebut, akhirnya setelah berjam-jam, Dio keluar ruangan juga…. Namun dia tak tampak seperti biasanya, ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.

Ternyata eksperimennya berhasil, dio memakai sepatu impiannya.

“ayah…. Ibu….Cha-cha…”! teriak Dio,dia melayang di atas, dekat sekali dengan lampu kristal kesayangan ibu,

Dengan bangga di memperlihatkan kebolehan sepatu eksperimennya itu, dia mencoba terbang di dalam rumah, namun, tiba-tiba saat dia mendemokan hasil eksperimennya, dia menabrak lampu kristal kesayangan ibu,

“bru…k” secepat kilat kristal kesayangan ibu terjatuh dan badan mungil Dio terpental ke dinding, dengan sepontan ibu ayah, dan Cha-cha menghampiri Dio yang jatuh dan melihat apa sebenarnya yang terjadi.

“Dio ada apa?” tanya ayah heran sambil memegang serpihan lampu kristal yang tersebar di lantai, sedangkan Ibu dan Cha-cha menangis.

“ayah…blek tiba-tiba Dio terkapar pingsan, ayah memindahkan Dio kedalam kamar.

Seusai dia diperikasa oleh pak dokter tak lama kemudia dia siuman. Dan dia menanyakan sepatu hasil eksperimennya kepada ibu.

“Ayah Dio berhasil menciptakan eksperimen yang luar biasa!” sembari menunjukan sepasang sepatu hasil eksperimennya

“apa itu nak? Tanya ayah dan ibu serempak

Dio menunjuk tangannya kearah sepatu yang tergeletak di lantai kamarnya, lalu dia mengambil dan memakainya, dia mencoba memperlihatkan kehebatan sepatu hasil eksperimennya kepada kedua orang tuanya dan kepada adik tercinta, tiba-tiba dia terbang, semua orang yang berada didalam kamar heran dan berteriak

“Dio….turun …hati-hati… nak”, teriak ibu khawatir

Keesokan harinya dengan bangga untuk pertama kalinya, dia memakai sepatu karyanya kesekolah, padahal hari itu kondisi Dio kurang sehat, karena semalam jatuh pingsan, namun dia bertekat untuk masuk sekolah dan ingin menunjukan hasil karyanya kepada teman-temannya, ketika dia memperlihatkan kehebatan sepatunya, teman-temannya berdecak kagum, karena Dio memperlihatkan kebolehan sepatunya terbang, pagi hari itu lapangan sekolahannya penuh sekali dengan orang-orang yang melihat atraksi Dio bersama sepatu hasil karyanya.

Seminggu telah berlalu, Dio menjadi layaknya seorang selebritis yang terkenal, di sekolah maupun di area rumahnya dan tak ada seorang pun yang tak kenal dengan dia. “Bocah ajaib yang bisa terbang” itulah sapaan dari orang –orang terhadap Dio.

Siang hari itu bel rumah Dio berbunyi keras

Tet…tet…tet…. Suara bel pintu mengarahkan ibu untuk membuka pintu, ketika ibu membukanya, terlihat dua sosok pria membawa kamera dan microfon, ibu heran sekali

“permisi apa benar ini rumah Muhammad Dio Ramadhan”? tanya sosok pria yang membawa microfon

Sebelum ibu menjawab pertanyaannya, ibu membaca ID Card yang bergantungan di leher lelaki itu, ternyata kedua lelaki itu adalah seorang wartawan

“iya …betul… ini rumahnya Dio dan saya adalah ibunya”

Untuk memastiakan ibu bertanya kepada kedua orang lelaki itu

“Anda siapa?

“kami adalah wartawan dari majalah Biang Lala dan maksud kedatangan kami, yaitu kami ingin mewawancarai putra ibu”

Dan ibu Dio mempersilahkan kedua wartawan itu masuk dan duduk. Dan ibu memanggil Dio yang siang itu sedang asyik baca buku bersama adik tercintanya Cha-cha. dan ibu memberi tahukan kepada Dio bahwa ada yang mencarinya dan mencoba menjelaskan kepada Dio maksud kedatangan dua orang lelaki itu. Dan siang hari itu interview dimulai, hampir 30 menit Dio di wawancarai oleh majalah Biang Lala, salah satu majalah tentang anak-anak yang terkemuka di Jakarta.

Keesokan harinya foto, dan hasil wawancara yang dilakukan di rumah Dio kemarin siang terbit, semenjak saat itu Dio semakin sibuk, dia selalu di kunjungi wartawan dari berbagai macam majalah dan televisi, karena mereka kagum dan takjub akan eksperimen yang di lakukan oleh Dio. Semenjak saat itu Dio jarang sekali bermain bersama teman-temannya, karena dia selalu sibuk untuk membuat gebrakan baru dan dia selalu berfikir eksperimen apa lagi yang harus di buatnya.

Dio senang sekali dengan hidupnya sekarang, dia merasa keinginannya untuk di kenal banyak orang tercapai, karena saat ini dia di kenal oleh banyak orang dan yang membuatnya bangga adalah dia di nobatkan oleh bapak Presidaen RI sebagai salah satu putra bangsa yang cerdas dan merupakan ilmuan cilik yang di miliki oleh bangsa Indonesia atas karyanya membuat sepatu yang bisa terbang secepat kilat , dan berjalan diatas air.

Setiap dia berjalan keluar memakai atau tidak memakai sepatu eksperimennya, dia selalu di buru tanda tangan dan banyak sekali orang yang meminta foto bersamanya, dan dia selalu di kelilingi wartawan layaknya artis terkenal.

Suatu hari selepas pulang sekolah dia melihat dari balik jendela kamarnya, dia melihat teman-temannya asyik bermain di lapanga. Pada saat itu dia mulai merasa bosan dengan kehidupannya yang tak sebebas seperti dulu, dia merasa telah kehilangan teman-temannya karena dia di tuntut untuk membuat eksperimen baru. Dia mulai bosan akan kehidupannya, ketika dia sedang sedih dia selalu di mintai tanda tangan foto bareng, dan wawancara oleh wartawan. Batas kebosanannya semakin memuncak karena dia merasa tak ada orang yang perduli dengan dirinya. Saat itu tiba-tiba dia berteriak di hadapan berpuluh-puluh pasang mata

“Bosa…n, Dio bosan di wawancarai aja! Dio nyesel jadi terkenal, Dio pengen kaya dulu lagi” teriaknya memelas

“ibu….tolong…tolongin Dio…” Dio menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba “Dio…Dio…” suara ibu menyadarkannya dari alam bawah sadar kealam nyata.

“ada apa nak?”, “mimpi buruk bukan?” tanya ibu sambil mengusap-usap kepala Dio yang basah seperti terguyur air.

“ibu….ibu…” Dio merangkul ibunya dan menangis,

“Dio gak mau jadi orang terkenal” dengan suara yang terengah-engah

“kenapa?” tanya ibu, lalu Dio menceritakan semua mimpinya siang hari itu kepada ibu dan Cha-cha.

Sore harinya seperti biasa dia hendak bermain sepeda bersama teman-temannya,

“bu…sepeda Dio ada di mana?” tanya Dio yang sudah siap mengenakan baju bersepedahnya

“tadi kamu taruh di mana pas pulang sekolah?”

“oh..iya lupa, tadi aku gak masukin ke garasi bu…!” sambil menepuk jidatnya.

Setelah mencari-cari ternyata sepedanya masih berada di depan pintu garasi mobil ayahnya.

“ibu..Dio berangkat ya…” sahut Dio sembari mengenjot sepedanya.

“Dio pulangnya jangan lewat dari magrib ya.. nak!, eyangkan mau makan malam di sini”, sahut ibu mengingatkan Dio.

Saat mereka asyik bermain sepeda di taman, Rama salah satu teman Dio memanggil dengan suara yang cukup keras. “He…i..hei kemari” serempak mereka mendekati Rama,

“ada apa-ada apa Cih Ram?”

“itu….. itu… lihat”, telunjuk Rama mengarah ke keramaian yang berada di tengah taman bermain, “ada artis yang sedang di wawancarai oleh wartawan”

Dio tersenyum dan berkata

“engga enak tau jadi terkenal itu” seru Dio sambil memulai mengayuh sepedanya,

“wei…wei..bentar lagi magrib tau…” Seru Dio menagajak teman-temannya pulang.

4 Tanggapan ke “Mimpi Dio”

  1. it is a good story! i will waiting for more my friend!

  2. cerpen kerenz..buatan ate nuy,,

  3. terima kasih atas komen’a,
    gimana nich UAC’a? semoga sukses selalu.

  4. keren jga cerpen’e ..

Tinggalkan Balasan