Apakan pekerjaan memilih Anda, atau Anda memilih pekerjaan???

Hanya sedikit sekali orang yang sejak kecil sudah tahu mereka ingin menjadi apa. Memang kita mendengar cerita-cerita mengenai seniman atau penulis yang, saat pertama kali memegang kuas atau pena, tak pernah lagi melihat kebelakang. Picasso, sebagai contoh, mulai melukis dengan serius di usia 10 tahun dan sudah memamerkan karyanya di berbagai galeri pada usia 13 tahun. Namun, kebanyakna dari kita tidak semudah itu menyadari pekerjaan yang ditakdirkan untuk kita. Hanya sedikit orang muda yang meluangkan waktu untuk memikirkan apa karya hidup mereka. Dan bahkan mereka yang menyempatkan diri pun banyak yang beranggapan tak kkan bisa hidup dari pekerjaan impian mereka.

Jadi, kebanyakan dari kita pada dasarnya terbawa arus menuju pekerjaan kita. Hidup kita berlangsung dengan cara tertentu, dan ketika hal ini terjadi, kita memilih dari berbagai pilihan yang ditawarkan kepada kita. Ini sesuatu yang wajar, dan sebagian di antara kita bernasib cukup baik untuk mendapatkan pekerjaan yang sempurna melalui proses ini, tetapi tampak jelas bahwa cara ini bukan cara terbaik untuk mendengar dan mengikuti panggilan hidup kita.

Dan juga tampak jelas bahwa banyak dari kita gagal menemukan panggilan kita dengan cara asal-asalan ini. Dan ketika hal ini terjadi, kita menemukan diri sendiri di suatu titik tertentu dalam hidup kita, biasanya di sekitar usia pertengahan, bertanya kepada diri sendiri : “Siapa aku?” “Apa yang sebenarnya ditakdirkan untuk kulakukan?” “Apa yang akan benar-benar membuatku bahagia?”.

Rasa terputus dari jati diri asli kita ini mewarnai seluruh kehidupan kita. Ini sebabnya begitu banyak orang merasa kehilangan arah. Menyimpang. Mandek. Kita bertanya-tanya apakah kita bisa mengubah arah dan menemukan jalan untuk kembali kepada diri kita yang sebenarnya.

Bagaimana cara kita memilih sebuah kehidupan yang mengungkapkan panggilan kita?

Suatu pekerjaan, karier, atau keputusan hidup dan keputusan pekerjaan yang baik harus terdiri atas gabungan tiga unsur. Bakat, hasrat dan nilai.

Bakat

Bakat kita merupakan kecenderungan khusus yang ada sejak lahir, kekuatan dibelakang hal-hal yang kita nikmati dan lakukan dengan baik-yang tak pernah perlu kita pelajari. Bakat kita merupakan pemberian Tuhan, tapi kita secara alami tidak terdorong untuk menyumbangkannya; kita hanya ingin membalas permberian-Nya melalui bakat-bakat kita. Mengekspresikan bakat kita adalah sesuatu yang kita lakukan secara alami, dengan mudah, dan tanpa pamrih.

Bakat merupakan kecenderungan yang lebih dalam dari usaha yang sangat berbakat seperti Steve Jobs dari perusahaan Apple. Tampaknya, kemampuan khususnya adalah mengilhami orang untuk mengatur diri mereka sendiri di sekitar visi masa depan. Banyak kemampuan serta keterampilan pribadi yang membentuk bakatnya ini; tampak jelas ia seorang pembicara, motivator, dan perancang produk yang hebat. Tetapi bakatnya, dan bakat orang-orang lain yang juga berhasil dalam membangkitkan dukungan bagi upaya pengembangan visi mereka, lebih besar dari pada seluruh kemampuan itu.

Oleh karenanya, ketika mempelajari bakat kita sendiri, kita perlu berpikir dalam konteks yang dalam. Kita perlu mencari apa yang memotivasi bakat kita. Kita perlu mempelajari apa yang selalu senang kita berikan kepada orang lain.

Ada hubungan alami antara bakat kita dengan aspek yang paling memuaskan dari perkerjaan kita. Jadi, satu cara untuk menemukan bakat kita adalah dengan mengajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri :

Pekerjaan” apa yang sedang kulakukan ketika terakhir kalinya aku begitu asyik bekerja sehingga lupa waktu?”

Gunakan waktu beberapa saat untuk menuliskan jawaban anda dalam Buku Catatan Anda.

Ketika sedang mengungkapkan bakat kita, kita cenderung masuk kedalam apa yang disebut oleh Mihaly Csikszentmuhalyi, dalam bukunya The Psychology of Optimal Experience, sebagai kondisi “mengalir”. Kita menjadi sangat terlibat dengan apa yang sedang kita lakukan, begitu dalam terlibat sehingga jam seolah mencair, bisa berlalu dalam sekerjap. Kita begitu tenggelam dalam waktu sehingga waktu meleset cepat.

Ingat saat terakhir kali anda merasakan kondisi mengalir ini. Apa yang sedang anda lakukan? Lebih penting lagi, aspek apa dari pekerjaan yang sedang anda lakukan yang membuatnya begitu memuaskan? Mungkin, sebagai contoh, anda sedang memberikan presentasi kepada anggota tim atau klien. Aspek apa dari presentasi yang membuat anda bergairah? Mengkomunikasikan? Memotivasi? Menjual? Lihatlah ke balik presentasi itu sendiri untuk menemukan apa bakat anda. Dan kemudian perhatikan bahwa mengungkapkan bakat-bakat ini membentuk seutas benag merah dalam berbagai kegiatan yang benar-benar menggerakkan anda- Buku Catatan Anda.

Anda juga akan sangat terbantu jika merenungkan rintangan atau dorongan bagi bakat alami anda. Jika kita beruntung, orang tua, guru, dan rekan kita akan memupuk bakat kita. Namun, banyak orang harus berjuang untuk mengungkapkan bakat mereka, dan bagi kebanyakan dari mereka, perjuangan itu terbukti terlalu berat. Dari pada mencari cara untuk menghidupkan bakat mereka, mureka malah memilih untuk mengabaikan kemampuan alami mereka. Meski praktis, hal ini sangat disayangkan. Bakat kita selalu mencari pengungkapan: kehidupan yang dijalani tanpa membiarkan bakat kita tumbuh subur adalah kehidupan yagn tidak seutuhnya dijalani.

Meski demikian, tak pernah terlambat untuk mengungkap dan membangkitkan kembali bakat-bakat kita. Dan melakukannya dengan Buku Catatan, ktia bisa mulai menciptakan siulan dalam pekerjaan kita.

Tinggalkan Balasan